Tulisan dalam blog ini sekedar catatan dan kumpulan pengalaman...

Rabu, 08 Februari 2012

KASAK KUSUK PEMILIHAN GUBERNUR MALUT 2013 ANTONI NURDIN

Pemiliahn Gubernur Maluku Utara tahun 2013 masih cukup jauh namun sejumlah tokoh lokal suda mulai ancang-ancang untuk turut meramaikan suksesi lokal tersebut.  Mereka selain terdaftar dalam poling yang dilaksanakan harian Malut Post, juga terus berusaha melakukan pencitraan untuk meraih simpati publik. Namun sayang, mereka yang hari ini menjadi pembicaraan publik, adalah orang-orang yang pernah diberi kesempatan untuk berkuasa dan gagal dalam mengupayakan kemakmuran rakyat.

Tetapi saat ini mereka tampil percaya diri dihadapan publik untuk maju sebagai calon Gubernur, mereka seakan tidak pernah berbuat salah dan menganggap apa yang selama ini dilakukan adalah benar, tetapi sesungguhnya mereka gagal ketika memimpin ditempat lain, misalnya ketika menjadi Bupati dan Wali Kota.

Mereka memiliki catatan kelam dihadapan publik, mereka memerintah dengan tangan besi, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta dari pada di daerah, lalu saat ini mereka berani maju sebagai calon Gubernur Maluku Utara, dengan terus saja membangun citra dengan harapan publik dapat kembali bersimpati terhadapnya. Saya kira, sebaiknya mereka memberi kesempatan kepada tokoh laiinya yang selama iini belum tersentuh firus korupsi. Karena dari amatan publik figur yang saat ini meramaikan bursa calon Gubernur Maluku Utara, lebih banyak cacatnya dari baiknya.

Selain itu yang sangat disayangkan adalah keterlibatan sejumlah aktifis Maluku Utara yang sudah jauh-jauh hari melibatkan diri sebagai team sukses untuk kandidat tertentu. Memang secara faktual mereka tidak tercatat sebagai team namun dari sejarah pertemanan, dan relasi sosial yang dibangun menunjukan bahwa mereka adalah bagian dari figur tersebut.

Padahal amatan publik mereka yang hari ini kasak kusuk, selain terlalu banyak cacatnya, juga sebagian yang lain sama sekali tidak memiliki jam terbang politik dan pengalaman pemerintahan. Belum lagi Undang-undang yang membatasi setiap daerah yang memiliki penduduk di bawa tiga juta tidak dibolehkan memiliki  wakil Gubernur. Lalu komunikasi politik yang selama ini telah dibangun dengan janji paket sebagai kandidat harus berakhir dengan menyedihkan, syukur kalau belum ada materi yang dikorbankan untuk kepentingan politik yang belum tentu terlaksana.

Karena itu sebaiknya publik lebih hati-hati dan jenius dalam memberikan penilaian dan menjatuhkan pilihan politik terhadap kandidat Gubernur, sebab pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang mampu membawa Maluku Utara lebih baik kedepannya. Bukan pemimpin yang kembali mengulang sejarah kegagalan pemimpin sebelumnya, dimana Maluku Utara sangat tertinggal dengan Provinsi Lainnya yang ada di Indonesia.

Untuk dapat meraih sesuatu yang lebih baik, alternatifnya pililah pemimpin yang baik pula, dan saya kira masih banyak figur bersih dan fisioner selain yang saat ini kasak kusuk meramaikan burca calon Gubernur kedepan. Figur seperti Fadel Muhamad yang juga adalah putra Maluku Utara, jam terbangnya sebagai tokoh nasional tidak dapat diragukan lagi, hanya saja Fadel secara pribadi hingga saat ini tidak berkeinginan untuk pulang kampung untuk memperbaiki daerahnya.

Selain itu ada Ahmad Hatary yang sukses berkarya di negeri orang, juga selama ini belum memiliki cacat politik di Maluku Utara, namun apakah mereka mau dipilih oleh rakyat Maluku Utara yang saat ini, belum cerdas dalam berpolitik. Mereka masi melihat gizi bukan visi, sehingga pilihannya juga adalah berdasarkan hitungan pragmatis tersebut. Belum terlambat, semuanya masih bisa dikomunikasikan dalam rangka membangun peradaban Maluku Utara yang cemerlang.
                                Jl. Pramuka Jakarta 8 Pebruari 2012

Selasa, 07 Februari 2012

MUSIBAH DEMOKRAT AMBISI SEKELOMPOK ORANG

Delapan bulan terakhir posisi partai demokrat terus menjadi bulan-bulanan media masa karena keterlibatan sejumlah kadernya dalam perkara tindak pidana korupsi. Para kader muda demokrat yang selama ini berada dilingkaran kekuasaan disilaukan dengan godaan pragmatis. Godaan tersebut menjadikan mereka berbuat apa saja guna secepatnya meraih impian menjadi orang sukses “kaya” sehingga cara-cara yang tidak halalpun ditempuhnya.

Partai demokrat yang masih terbilang belia di negara ini, semestinya mampu dikelola dengan baik oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi partai, sebab jika tidak maka dikhawatirkan partai pemenang pemilu 2009 lalu ini, akan mengalami kemerosotan akibat ketidak percayaan publik, setelah para kader-kadernya diperhadapkan dengan permasalahan hukum yang menimpa mereka.
Partai Golkar, PDIP dan PPP adalah partai yang tetap eksis selama berpuluh-puluh tahun, karena mereka mampu mengelola partai dengan sangat baik, serta berusaha untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat menjatuhkan citra partai termasuk upaya menghindari para kadernya terlibat perkara tindak pidana korupsi. Sebagai sebuah partai, untuk menjadi besar tidaklah mudah, dibutuhkan kerja keras dalam membangun kepercayaan publik, dan juga sebagai sebuah partai jika terlanjur terpuruk akibat publik tidak lagi percaya terhadap keberadaan partai  tersebut, maka butuh waktu dan energi ekstra untuk kemnbali meraih kepercayaan seperti semula.

Demokrat sebagai sebuah partai yang terlanjur dewasa sebelum waktunya, atau dipaksa untuk menjadi dewasa, ternyata sebagian kader-kadernya lupa diri ketika didewasakan dengan kekuasaan. Mereka adalah orang-orang muda yang selama ini diharapkan oleh publik bisa menjadi lokomotif perubahan bagi bangsa ini, terutama dalam pemberantasan korupsi, sesuai dengan slogan partai demokrat ketika kampanye tahun 2009 “katakan tidak untuk korupsi”.

Ulah sebagian kader tersebut, kini demokrat semakin terpuruk citranya di mata publik, bisa jadi dalam pemilu 2014 mendatang partai demokrat tinggal kenangan sejarah, jika tidak segera diambil langkah-lankah strategis untuk memulihkan citranya sebagai partai berkuasa saat ini. Kader partai yang terlibat secepatnya diberi sangsi oleh partai, kemudian partai demoktrat harus berada didepan untuk memberikan suport kepada KPK agar kader demokrat yang dianggap mencederai rasa keadilan publik tersebut segera diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Bukan sebaliknya partai malah tampil dengan tetap membela kadernya yang diduga terlibat dalam perkara tindak pidana korupsi. Pernyataan ketua Umum partai demokrat Anas Urbaningrum bahwa partainya akan menyiapkan team hukum untuk membela kadernya yang terlibat korupsi, sebenarnya merupakan langkah yang tidak bijak, suda bersalah masih juga mau dibela.

Keterpurukan citra demokrat di mata publik seakan membawa petaka bagi elite politik dihampir semua partai politik yang ada, karena rakyat nantinya tidak akan lagi percaya pada partai dan politisi, jika mereka dimandatir oleh rakyat untuk mewakilinya, namun setelah berkuasa justru mereka berbuat hal-hal yang bertentangan dengan norma serta hukum di negara ini. Apa lagi konteksnya terhadap kelompok muda yang saat ini rame-rame terjun kedunia politik sambil berharap bisa berkuasa dan terlibat mengatur negara ini.

Saya kira masi ada waktu elite elite muda partai politik mau berbenah diri terutama yang ada di partai demokrat untuk kembali meraih simpati publik. Pemilu 2014 ada pembuktian partai demorat tetap eksis atau hanya sekedar pelengkap demokrasi yang sementara berjalan. Karena pub;lik saat ini tengah menyaksikan awal dari kehancuran sebuah partai besar yang bernama demokrat. Publik menyaksikan kader partai demokrat sendiri yang membwa partai ini berada ditepi jurang yang dalam.
Cikini   7 pebruari 2012

Kamis, 02 Februari 2012

POLISI DITEPI JURANG

Fenomena kekerasan yang berkembang akhir-akhir ini, baik antara masyarakat maupun masyarakat dengan polisi sudah sangat memprihatinkan. Kekerasan dipertontonkan kehadapan publik, dan para pelaku kekerasn seakan bangga apa bila aksi mereka ditayangkan oleh media cetak maupun televisi. Karena hanya dengan kekerasan yang dipertontonkan tersebut tujuan dan cita-cita dapat didengar oleh pengambil kebijakan di negeri ini. Padahal  masi banyak cara santun lain untuk menyampaikan berbagai tuntutan yang diinginkan oleh masyarakat. Namun yang menjadi soal adalah, selama ini banyak cara santun pula yang telah ditempuh oleh masyarakat, namun aspirasi mereka mengalami sumbatan sistematis dari penguasa maupun pengusaha.

Kekerasan yang melibatkan polisi dan masyarakat yang selama ini merasa tertindas oleh kebijakan yang tidak berpihak terhadap rakyat kecil seperti kasus Mesuji, Bima, Riau, dan sejumlah kasus lain yang hampir setiap saat kita saksikan dimedia masa, selain infrastruktur yang rusak, juga korban jiwa sudah banyak sebagai konsekwensi dari praktek kekerasan yang dilakukan oleh polisi dan masyarakat. Pelaku kekerasanpun seakan berlomba untuk menguasai media masa untuk mengklarifikasi, membenarkan dan menyalahkan terhadap yang lainnya ketika kekerasan berlangsung. Padahal, baik polisi maupun masyarakat yang berbuat kekerasan semuanya tidak dapat dibenarkan secara logika.

Pertanyaan serius yang pantas diajukan terhadap polisi adalah, apakah polisi kita ini adalah polisi Indonesia atau bukan. Kalau polisi Indonesia tentunya seluruh kebijakan dalam pelayanannya adalah untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Namun faktanya kekerasan yang sering terjadi adalah ketika polisi tidak lagi memposisikan diri sebagai polisinya masyarakat, akan tetapi mereka adalah polisinya kapitalis. Mereka  selalu saja berpihak terhadap pemodal, dan anehnya para pemodal tersebut berasal dari negara lain. Ko bisa ya....mereka korbankan rakyat Indonesia untuk kepentingan negara lain.

Kalau dulu kita dijajah bangsa asing awalnya adalah para pemodal dari belanda (VOC, KADIN nya Belanda), Inggris, Portugis, Spain. Sekarang ketika bangsa ini telah merdeka, justru pengusa kita seenaknya memanggil bangsa asing untuk datang kembali menjajah masyarakat. Dan apa bila ada masyarakat yang protes mereka harus diburu, dipukuli bahkan dibedil. Bisa dibayangkan suatu ketika tanah kita ini diangkut keluar negeri, dan masyarakat hanya ingin mengambil sedikit saja dari hak mereka yang telah dirampas secara paksa oleh negara lain melalui persetujuan penguasa harus meregang nyawa.
Penguasa kita ternyata tidak memiliki nurani kemanusiaan lagi, mereka dibutakan oleh kekuasaan dan harta, padahal kekuasaan yang diperoleh melalui persetujuan rakyat hendaknya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Kekuasaan bukanlah rahmat tetapi amanah, karena itu berbuatlah yang terbaik, sebab dikehidupan lainnya anda akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah dilakukan setelah berkuasa.

Polisi sebagai penegak hukum sekaligus aparat keamanan yang setiap saat berada ditengah-tengah masyarakat, abdikan diri anda dengan sepenuh hati terhadap kepentingan bangsa dan masyarakat, bukan kepentingan pengusaha. Secara institusi polisi sekarang benar-benar terpuruk citranya dihadapan publik, kepercayaan masyarakat turun drastis terhadap institusi yang kita banggakan tersebut. Sebagai penulis saya optimis masih banyak polisi yang memiliki nurani kemanusiaan yang sehat, karena itu hendaknya segera merubah cara-cara kekerasan dengan cara yang damai dan santun ketika diperhadapkan dengan masyarakat.

Sebagai polisi anda harus sadar bahwa mulai dari tali sepatu hingga kancing seragam anda semuanya pemberian masyarakat, lalu kenapa anda tidak pandai membaca realitas tersebut..masih ada kesempatan untuk melakukan perubahan....semoga kedepan institusi polisi lebih baik lagi.
Pondok Labu 3 pebruari 2012








Rabu, 01 Februari 2012

PENANTIAN ANTONI JUNIOR

Sejak kelahiran kalian berdua di dunia ini, saya selalu bangga memiliki kalian dalam menemani hari-hari dimana saya meniti karir sebagai manusia biasa yang tentunya tidak lepas dari cita-cita untuk menjadi manusia sukses. Kalian seakan tak pernah berhenti sedetikpun menganggu pikiranku dimanapun saya berada, tawa dan senyum serta kelucuan selalu membayangiku, baik dikala saya lagi gembira maupun pada saat saya sedih karena harus berpisah dengan kalian berdua.
Kalian berdua adalah pelita dalam gelepan, disaat saya termenung, stres dengan rutinitas kantor maupun perkuliahan saya selama menuntut ilmu pengetahuan dirantau orang. Hanya lembaran foto kalian yang selalu saja menghiasi tampilan laptop, sehingga perasaan sedih itu kembali sirna sesaat setelah melihat senyum manis kalian berdua putriku. Febi dan Vina sebuah nama singkat sederhana namun memiliki makna yang sangat luar biasa, nama kalian adalah magnet kehidupan bagi saya, terutama dikala perasaan kangen ingin bersama kalian.
Saya menyadari sepenuhnya, bahwa saya adalah seorang ayah yang egois, yang hanya mau mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli dengah perasaan kalian. Saya telah merampas hari-hari bahagia kalian, hari-hari dimana kalian juga pingin bersama saya bergembira, bersenda gurau, bermain dan lain sebagainya. Semuak hak-hak kalian tersebut telah saya rampas, karena itu saya hanya dapat mengatakan kepada kalian berdua putriku, maafkan ayah. Bukankah ayah pernah mengatakan  apapun yang dilakukan oleh manusia didunia ini sepanjang dengan niat yang tulus, maka tidak akan ada yang sia-sia.
Saya teringat betul suatu saat Vina putri bungsuku dalam keadaan sakit keras, saya menelponnya mengajaknya ngobrol sambil bercanda, tetapi karena demam tinggi dia malas untuk bercanda melalui telpon. Dia hanya mengatakan pa...pentingkan anak-anak atau kuliah pa. Sampai saat ini saya tidak pernah memberikan jawaban. Karena bocah seusianya memiliki sensitifitas demikian,  saya jadi heran dan sangat terpukul, sebab dikala mereka sakitpun saya tidak berada disampingnya. Mudah-mudahan semua ini akan cepat terselesaikan apa yang telah saya impikan dan cita-citakan selama ini, saya akan hadir untuk kalian selamanya. Kalian adalah nafas dalam hidupku setiap saat. Sabar ya nak....ayah juga kangen sama kalian berdua...
Bidadariku yang cantik....rajinlah belajar, terus mengaji, dan jangan pernah tingalin sholat, berbaktilah pada kedua orang tua serta jadilah anak yang berguna buat agama bangsa dan negara. Kesuksesan hari depan ditentukan sejak awal saat ini. Railah cita-cita tersebut melalui usaha dan doa serta kesabaran. Ayah tidak akan pernah menyi-nyiakan kalian sampai kapanpun.

Ya Allah, lindungilah dan sayangilah kedua putriku disaat rasa sayangku tak mampu merengkuhnya dalam nyata, karena saya menyangi mereka juga karenamu. Mereka berdua adalah masa depanku yang tidak dapat tergantikan dengan benda apapun di dunia ini. Mereka masih terlalu polos, kecil untuk menghadapi cobaan dunia yang penuh dengan dinamika kehidupan.

Akhirnya hanya kepadamu semua usaha dan ibadahku, serta doaku buat buah hatiku ini saya persembahkan. Semoga kelak dikala dewasa mereka tetap selalu menjadikan pengalaman masa kecil sebagai cambuk untuk meraih masa depan yang gemilang. Febi dan Vina ayah pesan buat kalian berdua, jika suatu hari nanti kalian berdua gagal dalam meraih hari depan yang diinginkan, maka tanamkan dalam hati baik-baik, jangan pernah malu menjadi orang miskin, tapi malulah ketika selamanya kalian harus terus berada dibawah ketiak orang lain, kalian harus memiliki rencana, karena kapan kalian tidak memiliki rencana, maka selamanya kalian berdua akan hidup dibawah rencana orang. Dan jangan pernah berhenti berdoa, dan teruslah berusaha untuk tidak pernah menyakiti perasaan orang lain...
Patiukur pebruari 2012.

















PETAKA DIHARI TUA RASMINA

Akhir-akhir ini publik selau saja dikejutkan oleh lelucon hukum, dimana orang-orang kecil selalu saja dipersalahkan, sementara orang berduit dan memiliki kuasa di Negara ini bebas berbuat apa saja tanpa disentuh hukum, kalaupun disentuh hukumannya seringan mungkin, dan diberi fasilitas mewah dalam Lp. Sementara orang kecil sudah tidak diberi keadilan, juga disiksa secara fisik maupun materil. Publik tentu belum lupa dengan kasus Prita, (Tangerang) sehingga rame-rame masyarakat kumpulin koin untuk membelanya, kasus pencurian Kakao, pencurian pisang dua kakak beradik yang tidak waras, pencurian sendal jepit, (Palu)  pembunuhan dua kakak beradik di dalam sel polisi, (Medan) dan putusan bersalah 5 bulan kurungan terhadap nenek Rasmina. Bahkan masi banyak lagi kasus-kasus hukum yang diderita oleh orang-orang lemah tetapi tidak terekspos kepublik.

Saya jadi geli melihat praktek pengelolaan hukum di negara ini, katanya kita negara agama, mulai dari Muslim, Protestan, Katolik, Hindu, Buda, semua ada di Indonesia. sementara di Cina negara komunis namun kepastian hukumnya berjalan dengan baik. Koruptor mau pengusaha, penguasa semuanya ditembak mati, tetapi di indonesia seorang nenek yang belum tentu benar mencuri enam buah piring majikannya harus dipenjara 5 bulan. Bandingakan dengan kasus yang melibatkan mantan petinggi bank Indonesia hanya dipenjara 4 tahun padahal korupsinya 100 milyar, itupun dijalaninya stengah dari masa hukuman, dengan pertimbangan selama dipenjara dia termasuk katagori berperilaku baik. Mana ada koruptor baik, sekali maling ya tetap maling.

Kalau begini kondisi bangsa kita, kenapa kita tidak  jadikan negara ini negara komunis saja biar sistem dan pengelolaan negara ini dilakukan secara baik dan bijak oleh para penguasa dan pengusaha. Karena sudah sekian lama kita lepas dari penjajahan bangsa asing nyatanya masyarakat kita tetap terjajah dalam alam kemerdekaan, dan penjajahnya justru datang dari penguasa negara ini.
Rasmina adalah potret nyata betapa pengelolaan hukum di negara Indonesia  sangat tidak mencerminkan rasa keadilan publik.

Hukum hanya diberlakukan terhadap orang-orang kecil, orang yang tidak memiliki kuasa, orang yang tidak memiliki duit, sementara pelanggar hukum yang memiliki akses dengan kekuasaan dengan enaknya bisa berkeliaran bebas tanpa disentuh oleh penegak hukum. Susah juga ya kalau ustat bekerja disarang maling, kasian Kepala Kejaksaan dan Kaplori.

Kepada SBY anda adalah pemimpin negara ini, anda hadir dengan sejarah dan juga anda dituntut untuk berbuat sejarah. Karena itu hendaknya problem hukum yang akhir-akhir menjadi perdebatan publik harus segera dibenahi. Kata orang bijak masa lalu tidak mungkin dirubah, tetapi masa depan masi bisa diperbaiki. Barang siapa yang tidak belajar dari sejarah, maka dia akan terjerumus didalamnya.

Ketegasan dari seorang pemimpin sangat dibutuhkan, anda sebagai seorang presiden dengan pangkat Jendral sekaligus panglima tertinggi, penguasa 240 juta jiwa dan 17 ribu pulau, memang tidaklah mudah mengatur negara ini, tetapi jika ketegasan anda tunjukan saya optimis setidaknya orang-orang kecil seperti Rasmina tidak akan diperlakukan seperti sekarang ini. SBY, belajarlah dari sejarah kehidupan Mahatma Gandhi yang selama hidupnya didedikasikan buat negara dan orang-orang tertindas mulai dari Afrika Selatan hinga India. Tetapi jika anda juga mau belajar dari sejarah hidup Khadafi, Ben Ali, Husni Mubarak, Markos bahkan Soekarno dan Soeharto juga silahkan, tetapi konsekwensinya mereka itu semua berakhir dengan kematian yang tragis. Tentunya  anda tidak mau mati dalam keadaan merana, realistislah tentang hidup.

Kepada orang-orang kecil yang selama ini diperlakukan tidak adil, yakinlahlah perubahan pasti akan terjadi, perubahan hanyalah soal waktu, perubahan tidak butuh banyak orang, tetapi perubahan membutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen, karena yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Rasminah baru mudah-mudahan tidak akan ada lagi negara antah beranta yang bernama Indonesia.
Ciputat 2 Pebruari 2012

KERUDUNG NARKOBA

Publik dikejutkan dengan peristiwa tabrakan maut yang menelan korban sembilan nyawa anak manusia tak berdosa ditugu tani beberapa waktu lalu. Peristiwa memilukan tersebut, sangat melukai jiwa orang tua yang ditingalkan anak mereka untuk selamanya, sementara keluarga pelaku juga terkejut karena tidak pernah menyangka anak mereka harus mendapat cobaan ini dalam usia muda, apa lagi dia seorang wanita.

Peritiwa memilukan ini, adalah pelajaran berharga bagi anak manusia yang beragama, bahwa yang namanya kecelakan dan maut datangnya selalu tiba-tiba dan tak pernah diduga sebelumnya. Sehingga ikhtiar dan terus berdoa menjadi solusi alternatif dalam menjalankan roda kehidupan dimana dan dalam kondisi apapun. Jika ini dibawa dalam rana keikhlasan, mungkin saja ada yang berpendapat bahwa kejadian yang menimpa sembilan bocah tersebut sudah diatur oleh Tuhan alias ajal, namun ada juga yang beranggapan lain behwa ini adalah kelalain pelaku Afriyani dalam mengenderai mobil dan lain sebagainya.      

Terlepas itu semua, saya kiira yang patut dikritisi adalah, ternyata Afriyani seorang wanita muda berjilbab dan ketiga temannya, semalam suntuk begadang, kelayapan diklub malam, minum-minuman beralkohol, bahkan mengkonsumsi narkoba. Yang semua ini baik dalam hukum positif maupun dalam hukum agama apapun sangat tidak dibenarkan. Saya lebih miris lagi, karena Afriyani yang berjilbab perilakuknya tidak mencerminkan wanita sholeha, jilbab adalah kamuflase kehidupan, untuk mengelabui orang banyak dan mungkin termasuk mengelabui orang tuanya.

Mestinya kerudung menjadi filter untuk menghindari maksiat, bukan kerudung malah buat gaya hidup, sementara maksiat terus saja dilakukan. Peritiwa tabrakan maut tersebut adalah pelajaran berharga bagi anak manusia, bukan saja orang yang berkerudung tetapi semua orang, agama apapun yang dianutnya. Namun titik beratnya adalah terhadap wanita berkerudung, hendaknya mampu menjaga diri, agar tidak diberi teguran dan cobaan oleh Tuhan dalam hidup ini. Karena ketika saya menyaksikan tayangan salah satu TV suasta Afriyani ketika didalam club malam kerudungnya dilepas, namun ketika terjadi tabrakan maut dia berkerudung. Saya jadi bingung separah inikah kehidupan anak jaman sekarang.Dalam diskusi lepas dengan teman saya, dia berkelakar inilah kehidupan kota besar, pergaulan   serba bebas, yang punya duit apapun bisa dilakukan termasuk menabrak pejalan kaki. Wah jangan jangan diatas kerudung di bawa  warung.

Idealnya hukuman berat harus ditimpakan terhadap Afriyani baik dari aspek hukum positif karena kelalainnya telah membunuh sembilan bocah tak berdosa, serta sangsi sosial dimana seorang Afriyani hendaknya dia dan keturunanya jangan berlindung dibalik busana yang dikenakannya untuk menutupi kejahatan dan kebobrokan moralnya dimata manusia. Hukuman yang pantas buat Afriyani adalah hukuman mati, untuk membuat jera bagi pelaku lainnnya agar tidak bermain-main dengan Alkohol dan Narkoba apalagi sebagai wanita Muslimah.

Karena sangat manusia keluarga korban kejahatan Afriyani jika mereka tidak dengan mudah memaafkan orang yang telah membunuh begitu banyak anak yang tidak berdosa. Mereka meninggal ditempat kejadian, sementara Afriyani pasca tabrakan maut tidak menunjukan raut wajah penyesalan, bahkan Afriyani hanya dengan selember kertas seenaknya meminta maaf kepada keluarga korban yang dipublikasi melalui media masa. Saya pikir selagi diberi kesempatan untuk bertobat, maka jangan menyianyiakan disisa umur yang pendek ini. Bertobatlah.
Rawamangun awal pebruari 2012


Antara Ketelanjangan dan ke-Tauhidan ”Mencari Tafsir Baru Masa Depan Maluku Utara” Antoni Nurdin

Al-Qur’an menyatakan dengan jelas dan tegas: wa la taqulu li maiyuqtalu fi sabilillah amwat bal ahya, dan janganlah kamu katakana bahwa yang lalu itu mati melainkan tetap hidup (Al Baqarah:154), juga wal tandhur nafsun ma qaddamat lighad, hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Al Hasyir:18).

Penyair dan politikus Romawi Cicero (Marcus Tullius) yang hidup pada 106-43 Sebelum Masehi berseru Historia vitae magistra, sejarah adalah guru kehidupan. Kemudian kaum Yunani berkata historia panta rei, sejarah selalu mengalir selalu berulang. 
Sejarah atau kisah-kisah masa lampau di dalamnya mengandung pelajaran, peringatan, dan kebenaran yang dapat dijadikan cermin bagi proses berkaca diri pada masa kini, seraya merancang dan meniti masa depan. Sejarah juga berfungsi sebagai early warning, peringatan dini, sekaligus pengukuh hati dalam proses mencari dan menemukan identitas diri.
Siapakah kita dahulu dan siapakah kita sekarang dan siapakah kita di masa depan? Setiap manusia, kapan dan di mana pun, yang menghayati hidup secara sungguh-sungguh akan mendapatkan dirinya berhadapan muka dengan masalah-masalah asasi tersebut. Dengan membaca sejarah secara tenang dan arif tanpa dibebani prasangka dan kepentingan, pada akhirnya akan mengantarkan kita terbangun, semacam rasa kagetnya Archimedes karena penemuannya, lantas meloncat, berlari, dan berteriak: eureka! Aku telah menemukannya!

Dalam konteks inilah, membaca kembali sejarah Maluku Utara dengan jernih menjadi penting dan niscaya, ketimbang mengais-kais kejayaan masa lampau yang telah silam kemudian menghamburkan jargon-jargon murahan dengan kepongahan luar biasa. Sebagai pembaca sejarah dengan memahami dasar konsepsinya, kita pun ditantang untuk secara rendah hati menjawab sebuah pertanyaan sederhana: relevansi apakah yang ada pada esensi sejarah masa lalu dengan masa kini yang harus dipertahankan dan dikembangkan serta yang harus “ditanggalkan dan ditinggalkan” demi masa depan Maloku Kie Raha?
***
Sejak Maluku Utara menjadi provinsi (12 Oktober 1999), apalagi hari-hari ini, nama “Maluku Utara” semakin sering diucapkan, ditulis besar-besar pada spanduk, umbul-umbul, poster, baliho, dinding toko dan warung, selebaran rayuan caleg/calon senator/cagub/cabup/cawakot, juga halaman-halaman kertas kerja, serta media massa lokal. Setiap orang seperti berlomba paling keras meneriakkan nama “Maluku Utara” atau merasa paling berhak atas keberadaan provinsi ini. Paling tahu dan mengerti sejarah panjang peradabannya, bahkan dalam hal mengerogoti kekayaan alam dan keuangan daerahnya! Begitu kira-kira makna ringkasnya.

Serentak dengan itu sejarah seolah-olah bangkit atau dibangkitkan. Masa lampau hadir bersama masa kini dan impian-harapan masa depan. Celakanya, masa lampau yang (di)hadir(kan) senantiasa berupa kepingan-kepingan yang tidak utuh dan tambal sulam disana sini, sehingga provinsi yang kesannya Islami ini tumbuh dengan kosmetik yang menor di sana sini. Kepingan-kepingan lainnya yang boleh jadi sesungguhnya adalah bagian penting dan utama dari sejarah dan kebudayaan Maluku Utara dengan seluruh kebesarannya pada masa itu justru ter(di)sisihkan, ter(di)abaikan, bahkan ter(di)lupakan. Pada titik ini, Maluku Utara beserta seluruh sejarahnya, disadari atau tidak, telah dirumuskan secara serampangan dan irasional. 

Contoh kecil dari ter(di)sisihkannya (bahkan seperti sirna begitu saja) bagian sejarah dan kebudayaan Maluku Utara adalah soal tradisi ke-Islaman yang menjadi ciri dan identitas budaya tanah para sultan ini sejak jaman behuela.

Sejak pertengahan abad ke-15, Islam telah diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin yang pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan. Sultan Zainal Abidin juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate.

Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, lembaga kerajaan dibentuk sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. 

Kini setelah ratusan tahun waktu berlalu, kita bahkan tak tahu bahwa kesultanan Ternate merupakan kesultanan Islam pertama sebelum Majapahit lahir yang wilayahnya mencakup seluruh kepulauan Maluku, Irian Bagian Barat, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sambas dan Singkawang bahkan sampai ke Philipina Selatan.  Kita lebih tak tahu lagi bahwa dua naskah Melayu tertua di dunia adalah naskah surat sultan Ternate Abu Hayat II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 yang saat ini masih tersimpan di museum Lisabon – Portugal.

Jazirat Al-Mulk yang telah meninggalkan tapak-tapak sejarah yang panjang itu, kini sirna di gerus waktu. Perlahan namun pasti kepingan sejarah ini nyaris tak pernah disebut, dihadirkan, dan disebarkan ke wilayah publik. 
Apakah ke-Islaman bukan sesuatu yang penting untuk dijadikan identitas bersama makhluk manusia di bumi Allah yang bernama Jasirah para raja ini? Atau barangkali kita, manusia Maluku Utara, lebih memilih ketelanjangan ketimbang ke-Tauhidan sebagai identitas bersamanya?

Beranikah kita bersikap sebagai Jose Arcadia Buendia, tokoh dalam novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, yang memandang masa lalu dan masa kini sebagai kenyataan yang tak terberi begitu saja dan membongkar habis fase-fase sejarah untuk menemukan kembali diri sendiri yang sesungguhnya, yang sejati? 

Ataukah kita memang hanya sengaja memasang slogan Madani di jidat kota sambil dengan sadar mempraktekkan kemesuman dan penistaan atas nilai-nilai. Membangun masjid-masjid sebagai tempat menyepuh dosa setelah lelah berkaca pada pala-pala putih dan body perempuan nan poco-poco di keremangan warung yang meraja dari ibukota provinsi sampai ke pelosok Halmahera?. Ataukah memang symbol-symbol keluhuran itu telah luntur maknanya dan hanya menjadi atribut kampanye para petinggi kesultanan?
Live is to interpret, hidup adalah menafsir, kata filsuf Heidegger. Maka mari kita memberi tafsir baru pada sejarah dan kebudayaan Maluku Utara dengan meletakkan ke-Islaman sebagai esensi yang layak dipertahankan dan dikembangkan pada hari ini menuju masa depan. 

Mari membongkar sejarah, menafsirkannya secara baru dan cerdas, menemukan insight (keinsafan/kebenaran) baru, dan mencipta sejarah masa kini dan masa depan Maluku Utara yang lebih emas.