Tulisan dalam blog ini sekedar catatan dan kumpulan pengalaman...

Selasa, 28 Februari 2012

MALUKU DAN KEKERASAN ANTONI NURDIN

Maluku memiliki sejarah panjang di negara ini. Kita tau bersama sejak jaman penjajahan Belanda, orang-orang Maluku diperalat oleh penjajah untuk melakukan kekerasan fisik maupun mental terhadap suku lainnya di Indonesia. Faktanya adalah tentara KNIL buatan penjajah didominasi oleh orang-orang Maluku. Bahkan kecintaan mereka terhadap penjajah dapat dibuktikan, ketika bangsa ini merdeka, banyak orang-orang Maluku yang lebih memilih belanda sebagai negara mereka ketimbang Indonesia.

Dalam konteks kekinian, sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa opini publik menganggap orang Maluku identik dengan kekerasan dan premanisme. Hal tersebut sudah berlangsung lama, sejak jaman orde baru, tetapi aksi-aksi premanisme dan kekerasan masih saja berlangsung sampai dengan saat ini. Walaupun tidak semua orang Maluku berpikir dan bertindak kekerasan, ketika diperhadapkan dengan berbagai persoalan, masih sangat banyak orang Maluku yang baik, namun sayang opini publik telah digiring, bahwa orang maluku identik dengan kekerasan, kelakuan segelintir orang, dosanya ditanggung seantero orang Maluku.

Yang namanya premanisme dan kekerasan tidak dibenarkan tumbuh dan berkembang di Indonesia, namun akibat pemerintah melakukan pembiaran terhadap semua ini, maka aksi kekerasan dan premansime sulit diberantas, sementara keresahan masyarakat terus saja berlangsung setiap saat akibat ulah preman.

Kita masih ingat nama nama seperti Dedi Hamdun, Basri sangaji (keduanya Al-Marhum) Jhon Refra Key, Umar Key, Ongen Sangaji dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut cukup dikenal publik sebagai tokoh-tokoh asal Maluku yang memimpin organisasi yang sering melakukan keresan bahkan pembunuhan. Saya kira untuk mencari sesuap nasi masih banyak cara-cara halal yang harus ditempuh, bukan dengan cara yang tidak manusiawi bahkan bertentangan dengan hukum positif maupun hukum agama.

Apa yang dialami oleh Jhon Refra Key serta pembunuhan di rumah sakit Angkatan Darat Gatot Subroto semoga ini menjadi kasus terakhir yang melibatkan orang-orang Maluku. Saya yakin tidak ada yang tidak bisa dilakukan sepanjang niat seseorang itu baik, karena itu tinggalkan cara-cara kekerasan dan premanisme dalam membangun hidup, saya sebagai orang Maluku   merasa malu dihadapan sahabat-sahabat saya yang kebetulan bukan orang Maluku.

Negara harus bertanggung jawab terhadap maraknya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh para preman. Tanggung jawab negara tidak sekedar mencegah terjadinya kekerasan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana negara menyiapkan lapangan pekerjaan yang layak terhadap orang-orang daerah yang merantau di Jakarta. Selain itu aspek lemahnya SDM yang dimiliki juga menjadi faktor penting untuk disikapi secara bijak oleh negara, karena hampir rata-rata orang yang mengandalkan otot bukan otak, ketika diperhadapkan pada sebuah persoalan akibat lemahnya kualitas keilmuan mereka, bahkan mungkin saja mereka tidak pernah belajar secara formal di lembaga-lemabag pendidikan.

Ekonomi menjadi faktor orang itu bertindak nekat, bahkan dalam hadis Nabi saja dikatakan bahwa Kemiskinan mendekatkan seseorang pada kekufuran. Olehnya itu, negara untuk mencegah semakin berkembangnya aksi-aksi kekerasan yang muncul ditengah-tengah masyarakat, solusinya adalah menyiapkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka, bukan sebaliknya mereka dihabisi dengan cara-cara kasar, sementara disisi lain mereka tetap dibiarkan terlunta-lunta tanpa memiliki penghasilan. Saya kira belum terlambat untuk memperbaiki semua ini, jangan saling menyalahkan.


Sabtu, 18 Februari 2012

PELACUR CINTA DAN MAUT ANTONI NURDIN

Emapat bulan lalu saya bertemu dengan seoarng wanita muda asal sumatra, secara kebetulan dia berkunjung ketemannya yang juga tetangga kosan saya di daerah utan kayu Jakarta. Dari parasnya dia sangat cantik, baik hati, mudah bergaul, polos, apa adanya,  tidak tampak kalau dia adalah wanita yang berprofesi sebagai penghibur lelaki hidung belang. Sebut saja namanya Susan.

Kepolosannya itulah semua kepribadian dan profesi yang dijalaninya terunkap tanpa rasa malu dan berdosa terhadap apa yang dilakukannya selama ini. Dari penuturannya saya mendengar kalau apa yang dia lakukan hanyalah untuk menyambung hidup di kota Jakarta, awalnya dia adalah wanita baik baik, namun keadaanlah yang mebuatnya terjerumus kelembah nista. Baginya yang penting dia tidak merugikan rang lain, dan berbuat kejahatan, maka ini adalah pilihan sadar, tetapi jika ada yang mau membawa dirinya kejalan yang benar, semua ini pasti ditinggalkan.

Katanya saat ini ada seorang lelaki yang juga asal pulau sumatra yang mengajaknya jadi wanita baik-baik, pria tersebut kini bekerja disalah satu perusahan Tambang di daerah Sulawesi. Karena itu profesi nista yang dijalaninya selama ini telah dia tinggalkan, karena harapan masa depan menjadi wanita setia telah didapatkan dari pria yang dicintainya tersebut. Pria yang baik, mau menerima dirinya dengan cinta, bukan dengan nafsu, pria yang tidak peduli dengan masa lalunya, malah mengajaknya menatap masa depan.

Setalah pertemuan saya dengan wanita tersebut kami tidak pernah lagi bertemu, saya berpikir mungkin saja dia telah menikah dengan pria pujaan hatinya, entalah  memang saya tidak dekat secara pribadi, juga apa urusannya dengan saya tentang dia pikirku. Lagi pula kami bertemu secara kebetulan saja. Namun yang membuat saya terkejut adalah ketika saya mendengar dari sahabatnya, kalau dia skarat di Rumah Sakit Cipto akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya.

Sekilas setelah saya mengorek informasi dari sahabatnya, besar kemungkinan dia ditinggal oleh pria yang selama ini dia kagumi, dia sayang dan setia walaupun mereka harus terpisah jauh antara Jakarta dan Suawesi. Saya terkejut, dan hanya berujar kasian juga nasip yang menimpanya. Dalam lamunan, hati kecilku berkata  ternyata walaupun dia seorang pelacur tetapi dia juga manusia yang masih memiliki rasa dan perasaan untuk mencintai dan dicinta. Ketika harapan tumbuh untuk menjadi wanita baik-baik, pria yang mengisi hari-harinya malah harus pergi dari hidupnya, sementara diri dan cintanya selama ini diabdikan untuk pria tersebut. Bahkan, dirinya harus rela berpindah keyakinan, hanya untuk membuktikan kalau dirinya sangat mencintai pria yang kini telah menjadi suaminya tetapi berkhianat.

Namun pilihan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri   bukanlah solusi, dekatkan diri terhadap hal-hal positif serta kembali taat untuk beribadah kepada Allah mungkin bisa menjadi pilihan untuk tidak lagi kembali mengigat masa lalu yang suram. Dalam buku Sarina yang ditulis oleh Bung Karno tahun 1950, dikatakan oleh sukarno, didunia ini setiap harinya 10 orang bunuh diri, mayoritas adalah akibat putus cinta, dan 7 diantaranya dilakukan oleh muda mudi.

Terlepas ceriata semua di atas, saya berkesimpulan, yang namanya cinta ternyata tidak pernah memandang usia, agama suku, apa lagi status seseorang, dia hadir dalam ruang dan waktu. Cinta adalah anugrah terbesar yang diberikan tuhan buat hambanya. Karena itu bersukurlah seseorng yang masih diberi waktu untuk mencintai dan dicintai. Apa jadinya jika seseorang kemudian cinta itu dicabut tuhan dari perasaanya. Jalaludian Rumi seorang penyair Sufi kelahiran Balhk dalam kitabnya Matsnawi bertutur bila tiada cinta dunia akan membeku. Cinta...cinta...cinta..tetapi alangkah baiknya cinta yang hadir semata-mata karena Allah.
Rumah Sakit Cipta 18-02-2012














Jumat, 17 Februari 2012

NAMANYA JUGA TAMAN IMPIAN ANTONI NURDIN

Dipinggiran jalan Pramuka Jakarta saya ditelpon oleh sahabat saya asal Maluku Utara meminta ketemu, sebut saja namanya Hamlek. saya tanyakan agendanya apa lagian ini sudah pukul 22.30 malam. Karena saya terlalu lelah setelah seharian jalan mutar-mutar ama teman-teman. Singkat cerita setelah kami bertemu, kebetulan dia bawa speda motor, lalu dia mengajak saya untuk pergi nongkrong mencari tempat sepi untuk menghilangkan pikiran sumpek kami

Kebetulan saya yang diberi tugas olehnya untuk menyetir motor, maka saya arahkan tujuan kami menuju Ancol, saya selain mau mencari tempat santai, juga sudah agak lama tidak main ke Ancol. Setalah kami membayar karcis masuk sebesar  Rp. 45. 000 untuk 2 orang, kami langsung menuju pantai untuk mencari tempat santai.
 
Belum berapa lama kami duduk ngobrol berdua, teman saya yang juga mahasiswa pasca disalah satu perguruan tinggi , menceritakan sejumlah kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian akhir studi dia, saya lalu memberikan sejumlah saran dan berbagai pertimbangan, agar dia mau mau bersabar dalam proses, karena bukan hasil yang mesti diliat, tapi prosesnya yang mesti ditempuh secara baik.

Asyik juga sih ngobrol sambil menikmati pantai Ancol dimalam haril, selain pemandangan yang indah, juga banyak warga Jakarta terutama para ABG yang menghabiskan waktunya untuk bersantai di Ancol, sambil berkelakar teman saya berkata, sebaiknya jika kita ingin santai dan menghilangkan rasa stres, maka tempat ini harus menjadi pilihan, saya kemudian mengiyakan dengan menjawab sekenanya saja, karena memang saya juga stres dengan sejumlah persoalan pribadi yang lagi saya hadapi. Sehingga pikiran saya benar-benar ingin saya curahkan untuk gelombang laut.

Ketika asyik ngobrol disamping kami dua anak manusia ABG yang lagi pacaran, tampa peduli dengan keberadaan kami berdua, dengan banyaknya orang yang lalu lalang disamping, mereka terus saja berpelukan sambil ciuman bibir, bahkan ciuman tersebut kedengaran seperti bunyi cicak. Saya sebagai orang daerah terkejut dengan apa yang kami saksikan, sebab jangankan ciuman di tempat umum berpelukan saja masih merupakan hal yang tabu. Kata teman saya menyesuaikan saja dengan keadaan yang ada, liatain saja semoga stres kamu bisa hilang dengan tontonan seperti itu.

Saya kemudian mengatakan kepada teman saya, ko begonya itu cewek mau di ajak pacaran dengan kondisi yang serba irit. Kan banyak hotel tempat melampiaskan hasrat yang menggebu. Atau jangan-jangan mereka mau pacaran dengan suasana baru. Terlepas itu semua, saya bengong dengan pikiran saya sendiri sambil berkhayal, inikah yang namanya Jakarta dimalam Hari, inikah yang namanya Taman Impian, dimana semua manusia Jakarta bebas melakukan apa apa, mulai dari Korupsi uang rakyat, sampai kejahatan jalanan, termasuk mengabaikan aspek rasa malu untuk berpacaran secara irit ditempat umum.

Wah....dimana para Guru, ustat, pendeta  dan kontrol pemerintah terhadap berbagai pelanggaran moral yang semakin parah dan  terus saja terjadi di negara ini. Aturan hanya berlaku jika ada yang mau membayar untuk menyelesaikannya.
Jakarta Utara 17-02 2012

Senin, 13 Februari 2012

SBY NGOBROL DENGAN WARTAWAN

Selaku Presiden SBY  dan Partai Demorat delapan bulan terakhir terus saja diberitakan minor oleh berbagai stasiun TV maupun cetak terkait dengan kinerja pemerintah, serta kasus korupsi yang melibatkan sejumlah kaders-kaders Partai Demorat.

Karena itu, jumpa pers dengan wartawan yang dilaksanakan 13 pebruari adalah dalam rangka selain mendekatkan SBY dengan para kuli tinta Istana, juga untuk menjelaskan berbagai persoalan yang saat ini dihadapi oleh peerintah dan partai demokrat.

Dari pertemuan tersebut, muncul berbagai pertanyaan, mulai dari kasus senturi, wisma atlet, pilkada aceh, serta sejumlah kasus lainnya yang hingga saat ini masih saja menjadi perdebatan publik, sebab belum ada titik terangnya, terutama aspek kepastian hukum dari kasus yang melibatkan sejumlah kader-kader demokrat.

SBY, dalam jawabannya atas pertanyaan yang disampaikan oleh wartawan, sebenarnya secara substansi sudah sering disampaikan dalam berbagai kesempatan, namun yang menjadi pokok adalah, pertemuan dengan wartawan, sebenarnya hanya untuk merajut hubungan baik kembali dengan wartawan yang akhir-akhir ini kurang harmonis, akibat dari pemberitaan yang terus saja memojokan SBY dan partai demokrat.

Selain itu, persoalan korupsi yang saat ini menjadi komitmen partai demokrat untuk dihilangkan, malah kader demokrat tampil sebagai pelaku utama dalam korupsi tersebut. Bisa dibayangkan kasus sentury bukan lagi menjadi rahasia umum jika kekuasaan setidaknya tau dengan persoalan tersebut yang sampai dengan saat ini belum ada titik terang.

Sementara pemerintah dan KPK, terkesan mengulur kasus bank sentury, apa lagi akhir-akhir ini publik seakan sudah lupa dengan kasus besar bank sentury yang diduga melibatkan sejumlah petinggi negara. Karena itu jumpa pers yang dilakukan SBY sebenarnya hanyalah sebuah apologi untuk kembali meyakinkan publik bahwa sebenarnya pemerintah tetap serius mengusut berbagai kasus korupsi yang terjadi, walaupun jalan ditempat.

Saya sangat yakin persoalan senturi tidak akan terbuka, sampai masa jabatan SBY selaku presiden selesai di 2014 mendatang, dan kalaupun ada yang dipenjara dari kasus sentury, pasti hanyalah orang-orang kecil yang sekedar mengankan dan menjalankan instruksi dari atas.
                                                                                                                            Jati Waringin 13 02 2012

Rabu, 08 Februari 2012

KASAK KUSUK PEMILIHAN GUBERNUR MALUT 2013 ANTONI NURDIN

Pemiliahn Gubernur Maluku Utara tahun 2013 masih cukup jauh namun sejumlah tokoh lokal suda mulai ancang-ancang untuk turut meramaikan suksesi lokal tersebut.  Mereka selain terdaftar dalam poling yang dilaksanakan harian Malut Post, juga terus berusaha melakukan pencitraan untuk meraih simpati publik. Namun sayang, mereka yang hari ini menjadi pembicaraan publik, adalah orang-orang yang pernah diberi kesempatan untuk berkuasa dan gagal dalam mengupayakan kemakmuran rakyat.

Tetapi saat ini mereka tampil percaya diri dihadapan publik untuk maju sebagai calon Gubernur, mereka seakan tidak pernah berbuat salah dan menganggap apa yang selama ini dilakukan adalah benar, tetapi sesungguhnya mereka gagal ketika memimpin ditempat lain, misalnya ketika menjadi Bupati dan Wali Kota.

Mereka memiliki catatan kelam dihadapan publik, mereka memerintah dengan tangan besi, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta dari pada di daerah, lalu saat ini mereka berani maju sebagai calon Gubernur Maluku Utara, dengan terus saja membangun citra dengan harapan publik dapat kembali bersimpati terhadapnya. Saya kira, sebaiknya mereka memberi kesempatan kepada tokoh laiinya yang selama iini belum tersentuh firus korupsi. Karena dari amatan publik figur yang saat ini meramaikan bursa calon Gubernur Maluku Utara, lebih banyak cacatnya dari baiknya.

Selain itu yang sangat disayangkan adalah keterlibatan sejumlah aktifis Maluku Utara yang sudah jauh-jauh hari melibatkan diri sebagai team sukses untuk kandidat tertentu. Memang secara faktual mereka tidak tercatat sebagai team namun dari sejarah pertemanan, dan relasi sosial yang dibangun menunjukan bahwa mereka adalah bagian dari figur tersebut.

Padahal amatan publik mereka yang hari ini kasak kusuk, selain terlalu banyak cacatnya, juga sebagian yang lain sama sekali tidak memiliki jam terbang politik dan pengalaman pemerintahan. Belum lagi Undang-undang yang membatasi setiap daerah yang memiliki penduduk di bawa tiga juta tidak dibolehkan memiliki  wakil Gubernur. Lalu komunikasi politik yang selama ini telah dibangun dengan janji paket sebagai kandidat harus berakhir dengan menyedihkan, syukur kalau belum ada materi yang dikorbankan untuk kepentingan politik yang belum tentu terlaksana.

Karena itu sebaiknya publik lebih hati-hati dan jenius dalam memberikan penilaian dan menjatuhkan pilihan politik terhadap kandidat Gubernur, sebab pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang mampu membawa Maluku Utara lebih baik kedepannya. Bukan pemimpin yang kembali mengulang sejarah kegagalan pemimpin sebelumnya, dimana Maluku Utara sangat tertinggal dengan Provinsi Lainnya yang ada di Indonesia.

Untuk dapat meraih sesuatu yang lebih baik, alternatifnya pililah pemimpin yang baik pula, dan saya kira masih banyak figur bersih dan fisioner selain yang saat ini kasak kusuk meramaikan burca calon Gubernur kedepan. Figur seperti Fadel Muhamad yang juga adalah putra Maluku Utara, jam terbangnya sebagai tokoh nasional tidak dapat diragukan lagi, hanya saja Fadel secara pribadi hingga saat ini tidak berkeinginan untuk pulang kampung untuk memperbaiki daerahnya.

Selain itu ada Ahmad Hatary yang sukses berkarya di negeri orang, juga selama ini belum memiliki cacat politik di Maluku Utara, namun apakah mereka mau dipilih oleh rakyat Maluku Utara yang saat ini, belum cerdas dalam berpolitik. Mereka masi melihat gizi bukan visi, sehingga pilihannya juga adalah berdasarkan hitungan pragmatis tersebut. Belum terlambat, semuanya masih bisa dikomunikasikan dalam rangka membangun peradaban Maluku Utara yang cemerlang.
                                Jl. Pramuka Jakarta 8 Pebruari 2012

Selasa, 07 Februari 2012

MUSIBAH DEMOKRAT AMBISI SEKELOMPOK ORANG

Delapan bulan terakhir posisi partai demokrat terus menjadi bulan-bulanan media masa karena keterlibatan sejumlah kadernya dalam perkara tindak pidana korupsi. Para kader muda demokrat yang selama ini berada dilingkaran kekuasaan disilaukan dengan godaan pragmatis. Godaan tersebut menjadikan mereka berbuat apa saja guna secepatnya meraih impian menjadi orang sukses “kaya” sehingga cara-cara yang tidak halalpun ditempuhnya.

Partai demokrat yang masih terbilang belia di negara ini, semestinya mampu dikelola dengan baik oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi partai, sebab jika tidak maka dikhawatirkan partai pemenang pemilu 2009 lalu ini, akan mengalami kemerosotan akibat ketidak percayaan publik, setelah para kader-kadernya diperhadapkan dengan permasalahan hukum yang menimpa mereka.
Partai Golkar, PDIP dan PPP adalah partai yang tetap eksis selama berpuluh-puluh tahun, karena mereka mampu mengelola partai dengan sangat baik, serta berusaha untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat menjatuhkan citra partai termasuk upaya menghindari para kadernya terlibat perkara tindak pidana korupsi. Sebagai sebuah partai, untuk menjadi besar tidaklah mudah, dibutuhkan kerja keras dalam membangun kepercayaan publik, dan juga sebagai sebuah partai jika terlanjur terpuruk akibat publik tidak lagi percaya terhadap keberadaan partai  tersebut, maka butuh waktu dan energi ekstra untuk kemnbali meraih kepercayaan seperti semula.

Demokrat sebagai sebuah partai yang terlanjur dewasa sebelum waktunya, atau dipaksa untuk menjadi dewasa, ternyata sebagian kader-kadernya lupa diri ketika didewasakan dengan kekuasaan. Mereka adalah orang-orang muda yang selama ini diharapkan oleh publik bisa menjadi lokomotif perubahan bagi bangsa ini, terutama dalam pemberantasan korupsi, sesuai dengan slogan partai demokrat ketika kampanye tahun 2009 “katakan tidak untuk korupsi”.

Ulah sebagian kader tersebut, kini demokrat semakin terpuruk citranya di mata publik, bisa jadi dalam pemilu 2014 mendatang partai demokrat tinggal kenangan sejarah, jika tidak segera diambil langkah-lankah strategis untuk memulihkan citranya sebagai partai berkuasa saat ini. Kader partai yang terlibat secepatnya diberi sangsi oleh partai, kemudian partai demoktrat harus berada didepan untuk memberikan suport kepada KPK agar kader demokrat yang dianggap mencederai rasa keadilan publik tersebut segera diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Bukan sebaliknya partai malah tampil dengan tetap membela kadernya yang diduga terlibat dalam perkara tindak pidana korupsi. Pernyataan ketua Umum partai demokrat Anas Urbaningrum bahwa partainya akan menyiapkan team hukum untuk membela kadernya yang terlibat korupsi, sebenarnya merupakan langkah yang tidak bijak, suda bersalah masih juga mau dibela.

Keterpurukan citra demokrat di mata publik seakan membawa petaka bagi elite politik dihampir semua partai politik yang ada, karena rakyat nantinya tidak akan lagi percaya pada partai dan politisi, jika mereka dimandatir oleh rakyat untuk mewakilinya, namun setelah berkuasa justru mereka berbuat hal-hal yang bertentangan dengan norma serta hukum di negara ini. Apa lagi konteksnya terhadap kelompok muda yang saat ini rame-rame terjun kedunia politik sambil berharap bisa berkuasa dan terlibat mengatur negara ini.

Saya kira masi ada waktu elite elite muda partai politik mau berbenah diri terutama yang ada di partai demokrat untuk kembali meraih simpati publik. Pemilu 2014 ada pembuktian partai demorat tetap eksis atau hanya sekedar pelengkap demokrasi yang sementara berjalan. Karena pub;lik saat ini tengah menyaksikan awal dari kehancuran sebuah partai besar yang bernama demokrat. Publik menyaksikan kader partai demokrat sendiri yang membwa partai ini berada ditepi jurang yang dalam.
Cikini   7 pebruari 2012

Kamis, 02 Februari 2012

POLISI DITEPI JURANG

Fenomena kekerasan yang berkembang akhir-akhir ini, baik antara masyarakat maupun masyarakat dengan polisi sudah sangat memprihatinkan. Kekerasan dipertontonkan kehadapan publik, dan para pelaku kekerasn seakan bangga apa bila aksi mereka ditayangkan oleh media cetak maupun televisi. Karena hanya dengan kekerasan yang dipertontonkan tersebut tujuan dan cita-cita dapat didengar oleh pengambil kebijakan di negeri ini. Padahal  masi banyak cara santun lain untuk menyampaikan berbagai tuntutan yang diinginkan oleh masyarakat. Namun yang menjadi soal adalah, selama ini banyak cara santun pula yang telah ditempuh oleh masyarakat, namun aspirasi mereka mengalami sumbatan sistematis dari penguasa maupun pengusaha.

Kekerasan yang melibatkan polisi dan masyarakat yang selama ini merasa tertindas oleh kebijakan yang tidak berpihak terhadap rakyat kecil seperti kasus Mesuji, Bima, Riau, dan sejumlah kasus lain yang hampir setiap saat kita saksikan dimedia masa, selain infrastruktur yang rusak, juga korban jiwa sudah banyak sebagai konsekwensi dari praktek kekerasan yang dilakukan oleh polisi dan masyarakat. Pelaku kekerasanpun seakan berlomba untuk menguasai media masa untuk mengklarifikasi, membenarkan dan menyalahkan terhadap yang lainnya ketika kekerasan berlangsung. Padahal, baik polisi maupun masyarakat yang berbuat kekerasan semuanya tidak dapat dibenarkan secara logika.

Pertanyaan serius yang pantas diajukan terhadap polisi adalah, apakah polisi kita ini adalah polisi Indonesia atau bukan. Kalau polisi Indonesia tentunya seluruh kebijakan dalam pelayanannya adalah untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Namun faktanya kekerasan yang sering terjadi adalah ketika polisi tidak lagi memposisikan diri sebagai polisinya masyarakat, akan tetapi mereka adalah polisinya kapitalis. Mereka  selalu saja berpihak terhadap pemodal, dan anehnya para pemodal tersebut berasal dari negara lain. Ko bisa ya....mereka korbankan rakyat Indonesia untuk kepentingan negara lain.

Kalau dulu kita dijajah bangsa asing awalnya adalah para pemodal dari belanda (VOC, KADIN nya Belanda), Inggris, Portugis, Spain. Sekarang ketika bangsa ini telah merdeka, justru pengusa kita seenaknya memanggil bangsa asing untuk datang kembali menjajah masyarakat. Dan apa bila ada masyarakat yang protes mereka harus diburu, dipukuli bahkan dibedil. Bisa dibayangkan suatu ketika tanah kita ini diangkut keluar negeri, dan masyarakat hanya ingin mengambil sedikit saja dari hak mereka yang telah dirampas secara paksa oleh negara lain melalui persetujuan penguasa harus meregang nyawa.
Penguasa kita ternyata tidak memiliki nurani kemanusiaan lagi, mereka dibutakan oleh kekuasaan dan harta, padahal kekuasaan yang diperoleh melalui persetujuan rakyat hendaknya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Kekuasaan bukanlah rahmat tetapi amanah, karena itu berbuatlah yang terbaik, sebab dikehidupan lainnya anda akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah dilakukan setelah berkuasa.

Polisi sebagai penegak hukum sekaligus aparat keamanan yang setiap saat berada ditengah-tengah masyarakat, abdikan diri anda dengan sepenuh hati terhadap kepentingan bangsa dan masyarakat, bukan kepentingan pengusaha. Secara institusi polisi sekarang benar-benar terpuruk citranya dihadapan publik, kepercayaan masyarakat turun drastis terhadap institusi yang kita banggakan tersebut. Sebagai penulis saya optimis masih banyak polisi yang memiliki nurani kemanusiaan yang sehat, karena itu hendaknya segera merubah cara-cara kekerasan dengan cara yang damai dan santun ketika diperhadapkan dengan masyarakat.

Sebagai polisi anda harus sadar bahwa mulai dari tali sepatu hingga kancing seragam anda semuanya pemberian masyarakat, lalu kenapa anda tidak pandai membaca realitas tersebut..masih ada kesempatan untuk melakukan perubahan....semoga kedepan institusi polisi lebih baik lagi.
Pondok Labu 3 pebruari 2012